Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2009

Kisah Duo Narsis II: Duo Narsis Strike Back! — Chapter I

Halo, fans-fansku! Di sini Donni yang ngganthenk, saya kembali lagi sebagai tokoh utama cerita ini!
Menyambung Kisah Duo Narsis yang ternyata mendapat sambutan tak terduga dari khalayak Espeelsa 7C (halah!), maka para pengarang gila memutuskan untuk merealisasikan niat gila mereka untuk membuat sekuelnya: Kisah Duo Narsis II: Duo Narsis Strike Back!. Sebenarnya niat ini sudah ada sejak hampir empat bulan yang lalu, tapi baru terlaksana sekarang karena pengarang makin tidak bisa membagi waktu akibat hampir gila gara-gara tugas sekolah yang menggunung (baru tugas! belum belajarnya!)
. Jika Anda kurang atau tidak paham dengan cerita ini, silahkan baca Kisah Duo Narsis. Silakan menikmati!

+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

Kisah Duo Narsis II: Duo Narsis Strike Back!
Chapter I: Kembalinya Ki Gatot

“Aduh!” seru Donni tiba-tiba, saat dia dan Aji sedang jajan. “Kenapa?” tanya Aji. Ia heran melihat tubuh temannya yang kecil meliak-liuk menahan kencing. Kayak cacing kepanasan, pikir Aji.

“Aku kebelet pipis!” seru Donni.

“O, tak kira kamu mau melahir… ADAUW!!!” jerit Aji. Sekedar info, kata-kata Aji terpotong karena Donni menendang tulang keringnya keras-keras.

“Ayo temeni aku ke WC!” perintah Donni memaksa. Aji hanya bisa menurut karena tengkuknya dicengkeram erat-erat dan Donni menyeretnya.

Di WC...

“Lega deh! Jajan yok!” kata Aji. Tetapi ia harus mengurungkan niatnya. Karena… muncullah seorang lelaki tua berpakaian ala paranormal! Kok rasanya sosok itu tidak asing, ya? Lho? Dia kan…

“KI GAPLEK!!!” seru Duo Narsis dengan rambut yang (hampir semua) berdiri karena ketakutan.

“Hus! WSS deh! Bukan Ki Gaplek tapi Ki Gatot!!!” Gatot? Ya, dialah Ki Gatot Dombermawan, paranormal di cerita Kisah Duo Narsis!

“WSS? Apaan tuh?” tanya Donni. “Wis Seru, Salah! Dasar pikun! Aku mau minta imbalan karena sudah menyingkirkan Lord Tinton Delemot! Bantu aku menemukan anakku!” (Yee, paranormal matre! Gak ikhlas, minta imbalan!)

“Kalau Krismawan, ada di kelas. Tapi nggak pa-pa nih? Kalau ketahuan guru gimana?” protes Donni. “Masih untung WC sepi!”

“Tenang, nggak apa kok! Ayo kita berangkat!” kata Ki Gatot. Maka dua antihero (tokoh protagonis utama yang kelakuannya menyimpang dari ketentuan hero umumnya) kita hanya bisa menurut. Syukurlah tidak ada yang melihat KG (Ki Gatot).

Di kelas mereka melihat Krismawan. Tapi saat mereka mendekatinya, ia menghilang!

“Hwaaa! Hantu!” jerit Donni dengan gaya anak cewek umur 5 tahun yang es krimnya barusan kejatuhan laba-laba Tarantula (Bingung membayangkannya? Petunjuk: menjerit dengan wajah sangat ketakutan dan pucat pasi) sambil melompat ke pelukan Aji. Jadi kayak Scooby-Doo dan Shaggy deh! (Pasangan yang cocok ya?)

Terdengar suara aneh. “Hua ha ha ha! Ki Gatot! Aku, Nyi Thiwul binti CicakMati, musuhmu!” (Donni dan Aji tertawa mendengar nama aneh bin, eh, binti ajaib itu) “Akulah yang menculik si Bakwan!”

“Krismawan!” koreksi Aji. “Terserahlah, pokoknya aku menculiknya! Kalau ingin menyelamatkannya, bertarunglah denganku di kastilku! Hua ha ha ha!”

“Sialan! Dia curang!” seru KG marah. “Mentang-mentang aku pernah mengalahkannya di Kompetisi Paranormal Terbaik! Donni, Aji, ayo kita lawan dia!”

“Hah?! Kita cuma bertiga!” kata Aji. “Panggil aja 2 pengarang gila itu!” usul Donni.

“Tumben pinter!” kata KG.

“Hei, aku emang udah pinter dan keren sejak dulu!” protes Donni (tapi segera ditenggelamkan komplen pembaca yang jijik).

KG segera merapal mantra pemanggil orang. Muncullah kedua pengarang gila itu, Karin dan Nia.

“Lho, kok ada Ki Gaplek?” tanya Nia. “Gatot!” koreksi KG (entah kenapa sepertinya semua tokoh di sini nggak bisa ngingat Gatot, ingatnya Gaplek).

“Kamu nyata toh?” tanya Karin. “Iyalah! Imajinasi kalian hebat deh!” puji KG. (Mohon maaf, jangan meremehkan kewarasan penulis hanya karena batas kreatif dan gila sangat tipis. Masih lebih dari 65% kok!)

“Kenapa kamu panggil kami kemari?” tanya Karin.

“Begini…” kata KG. Ia pun menceritakan semuanya.

+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

“HAH?! Kita harus ngelawan TokekMati?!” tanya Nia setelah cerita KG selesai. “CicakMati!” koreksi Donni.

“Yo'i! Lebih baik kita berangkat sekarang.” kata KG. “Portus Teleportus!” Mereka pun ber-teleport ke dunia KG.

Setelah berpusing-pusing di teleport zone (zona perantara ruang yang dilewati saat teleport mereka mendarat di dekat rawa. “Selamat datang di dunia kami!” kata KG.

“Kok nggak pake Portkey? Aku kan mabok perjalanan!” protes Nia. “Apa itu Potki?” KG balas tanya.

“Ah, sudahlah. Ini tempat yang dulu, kan? Wah, vespa-vespa itu udah ilang!” kata Karin.

“Yap, sejak Lord Delemot pergi vespa-vespa itu dilebur jadi logam, terus dibikin berbagai peralatan.” jelas KG.

Mendengar itu mata Aji berkaca-kaca. Rupanya saking cintanya pada vespa dia jadi mBrambangi! “Cengeng!” bentak Donni. Aji pun menelan tangisnya dengan pahit.

“Itu kediaman CicakMati, Angkerpura!” kata KG menunjuk sebuah bangunan berwarna kelabu di arah jam dua (Petunjuk: lihat jam!).

“Jauh amat dari sini! Kenapa nggak mendekat?” protes Aji. “Iya, di sini banyak nyamuk!” keluh Donni. “Coba aja!” kata KG.

Aji dan Donni mendekat. Tapi baru kurang lebih 1/2 meter jauhnya mereka dihujani panah!

“Huwaaa!!!” jerit mereka. Untung mereka nggak luka.

“Nah, kan? Kita perlu persenjataan yang lengkap. Samakan saja ini dengan perang!” kata KG.

Mata Karin yang agak sipit bersinar mendengar kata “perang”. Usulnya, “Hei, gimana kalo kita lawan mereka kayak di RPG? Pake pedang, tombak, kapak, panah, dan sihir! Kayak game-game Final Fantasy dan Fire Emblem!”

Nia antusias. Maklum dia penggemar Final Fantasy (Sekedar catatan, seri Final Fantasy atau FF adalah game favorit Nia. Kalau seri FE atau Fire Emblem itu kesukaan Karin). “Ya, gitu aja!”

“Oke deh!” kata KG. Muncullah sebuah laptop.

“Nggak ngambil dari kantor wakasek lagi kan?” tanya Donni. “Nggak lah!” jawab KG.

Setelah memasang flesdisnya Karin menulis:

Muncullah 5 anak perempuan dan 5 anak laki-laki dari kelas VIIC untuk membantu yaitu: Yona, Ito, Vendo, Michael, Sisko, Krisan, Desty Trisna, Eta, dan Clara, dan mereka akan membantu kami dalam perang ala RPG menghadapi CicakMati!

Kemudian muncullah ke-10 anak itu (maklum, pengarang bisa mengubah jalan cerita seenaknya!). Mereka kebingungan.

~To Be Continued to Chapter II~



Lanjutkan ke chapter selanjutnya: Laskar Dombermawan

Kisah Duo Narsis II: Duo Narsis Strike Back! — Chapter II

~KISAH SEBELUMNYA~

Duo Narsis, Aji dan Donni, kembali bertemu dengan Ki Gatot yang mencari anaknya. Tetapi Krismawan diculik oleh musuh KG, Nyi Thiwul binti CicakMati. Dengan bantuan dua pengarang gila kisah sebelumnya, Nia dan Karin, mereka berupaya menyerang Nyi CicakMati. Untuk mengatasi kekurangan pasukan, mereka memanggil 10 anak dari kelas 7C. Apa yang terjadi selanjutnya?

+_+_+_
+_+_+_+_+_+_+

Kisah Duo Narsis II: Duo Narsis Strike Back!
Chapter II: Menyerang dan Bertahan


“Oh Vendo!” seru Donni saat melihat Vendo. Ia menyongsong Vendo dengan gaya lebay ala film Kuch Kuch Hota Hai yang dibintangi Shahrukh Khan itu (tapi tanpa aca-aca nehi-nehi, ya). “Aji! Donni selingkuh!” seru Nia. Anak-anak yang kebingungan sekarang tertawa.

“Hei, dengar!” seru KG dengan suara menggelegar. “Aku Ki Gatot Dombermawan. Aku mau minta kalian membantuku menyelamatkan anakku, Krismawan!”

“Hah! Bapaknya Krismawan sejenis sama Ki Joko Bodo!” kata Vendo. “Kok bisa gini sih?!” tanya Yona. “Lha, salahin yang ngarang dong!” jawab KG.

“Wooo!” seru semuanya berbarengan. Nia dan Karin cengar-cengir kuda.

“O, iya! Omong-omong soal Krismawan, di sini ada pacarnya. Ini!” seru Donni sambil menunjuk Desty. Anak-anak langsung bersuit-suit.

“Kalau begitu kalian mau bantu aku kan?” tanya KG gembira. “Mau!” jawab anak-anak itu.

“Demi Krismawan, Des!” kata Eta. Anak-anak lain langsung menyambut kata-kata Eta dengan (lagi-lagi) siulan dan teriakan “Cieee!!!” yang memekakkan telinga.

“Oke, gini rencananya. Kita akan bertarung seperti di game RPG!” jelas Karin pada teman-teman sekelasnya. “Pake panah, pedang, sihir, tombak, sama kapak!” sambung Nia. Anak-anak sumringah.

“Tapi di sini kalau mati nggak bisa hidup lagi lho! Kalau takut pulang saja, nggak pa-pa!” kata KG. Anak-anak itu langsung terdiam, harap-harap cemas (istilah gaulnya yang sempat ngetren tahun 2003-an: H2C!)

“Tenang saja! Kan kami yang ngarang! Ceritanya ditulis sesuai keinginan kami!” kata Karin. “Ya! Akhirnya happy ending kok!” Semua gembira lagi (tapi penulis dicemberuti pembaca yang tidak menghendaki spoiler).

“Ya sudahlah! Kalian mau pake senjata apa?” tanya KG.

“Aku! Aku Assassin!” teriak Aji dengan PD-nya. Semua mencemooh. “Wiiiii... Mambu...”

“Kamu jadi montir Vespa aja!” usul Donni. “Aku yang Assassin! Biasa, wong ngganthenk!” Cemoohan kembali terdengar. “Wiiiiiiiii...”

KG pusing. “Sudah! Sekarang kubuat sesuai sifat kalian aja!” Mereka pun berubah.

“Haaa? Jadi Thief?!” seru Donni. “Cocok!” kata Michael (padahal dia sendiri jadi bajak laut! :p) “Kok gini sih? Nggak sesuai sama yang pake! Nggak keren!” keluh Donni bernarsis diri.

Sisko si Knight mengayun-ayunkan tombaknya. Tapi karena baju besinya berat ia oleng, sehingga menubruk Vendo (si Berserker). Vendo marah. “Lihat-lihat, nyuk!” Ia mengayun kapak raksasanya. Tapi meleset, malah nyaris kena anak-anak lain. Akhinya Vendo dan Sisko tawuran.

Sementara itu Desty, yang jadi penyihir, berlatih. “Wingardium Leviosa!” seru Desty. Tapi mantranya nggak bekerja. “Lho?”

“Kamu ini gimana, ini kan bukan Harry Potter! Ini dunia Duo Narsis!” kata Clara. Desty nyengir. Dasar maniak Harry Potter!

Di sisi lain tampak Ito dan Yona beradu pedang; Donni mengejek kostum Priest Aji yang norak; Nia, Krisan, Trisna, dan Eta bergosip ria; dan Karin membaca buku. KG frustasi.

“Cukup! Tujuan kalian dipanggil ke mari kan untuk membantuku! Serius dong!” Anak-anak itu merasa bersalah. “Maaaf...”

“Baik, kita berangkat besok karena sudah malam, siap-siaplah. Ada pertanyaan?” tanya KG.

“Kenapa yang dipilih cuma kita? Banyak yang pengen lho!” kata Denta.

“Oh, salahkan Nia saja. Biar saya yang ngetik tapi Nia yang milih,” jawab Karin tanpa rasa bersalah.

“Pantas Yona dipilih!” seru Eta. Kontan semua anak berseru-seru. Bagian kiri wajah Yona bersemu merah (anehnya benar-benar hanya sebelah kiri!).

“Aaah!!! Udah deh!!!” seru Nia. “Kalo dipikir-pikir kelompok kita kayak Laskar Dumbledore di Harry Potter 5 ya!”

“Iya! Tapi kalau kita Laskar Dombermawan, bukan Dumbledore!” seru Desty. Anak-anak mencemooh. “Mbathang!”

Kruyuuuk... Terdengar bunyi yang keras sekali.

“Suara apa itu?” tanya Sisko.

“Perutku... Aku kan laper...” Michael yang paling subur mengaku malu-malu. Semua ngakak.

KG menyihirkan makanan untuk mereka. Mereka makan dengan rakus, bahkan Michael berani bersumpah beratnya naik ½ kg!

“Makan yang banyak! Besok kita menyerang kastil hantu sialan itu, karena itu kalian butuh energi yang banyak,” kata KG.

Kemudian mereka tidur berjajar dalam kantung-kantung tidur yang disihir KG. Dalam hati mereka tak sabar menanti hari esok. Ya, mereka akan perang sungguhan!

~To Be Continued to Chapter III~



Baca Cerita Sebelumnya: Chapter I: Kembalinya Ki Gatot

Kamis, 26 Maret 2009

*Mrs.Esti's Army*

Asrama : Gryffindor*

Kepala Asrama : Mrs. Esti McGonagall - SBK-musik- Transfiguration*

Maskot : Gold* Vespa

Hantu : Jerat-terpanjang

Anggota asrama :
*tersedia link friendster
** yang mau ditambahin , bisa , tpi daftar FS dulu yakh ..**

1. Indira
2. Michael
3. Bobbie
4. Bintang
5. Clara
6. Desty
7. Donni
8. Erlia
9. George
10. Fabi
11. Dinda.fely
12.Krisan
13. Anggit
14. Gilang
15. Aji
16. Sisko
17. Wibi
18. Hana
19. Intan
20. Arin
21. Yona
22. Dito
23. Karin
24. Krismawan
25. Ayu
26. Dinda
27. Vendo
28. Nia
29. Gitta
30. Mega
31. Eta
32. Norman
33. Denta
34. Putri
35. Dimas
36. Tiko
37. Tinton
38. Trisna
39. Ito
40. Vina
41. Anggi
42. Yulius


Selasa, 24 Maret 2009

IKLAN :)

akan di tanyangkan sesudah Duo Narsis II , sebelumnya , lihat dulu petualangan Duo Narsis I di :
http://7checommunity.blogspot.com/2008/10/kisah-duo-narsis.html

ikuti ceritanya ya ! dijamin ketawa dech .. ~!!
akan diadakan lagi cerita serial drana perang romantis ,

"pakailah diadem ini, pakailah, jangan sampai hilang, kembali pulanglah dengan slamat setelah kembali perang." kata ? pada ?

mau tau cerita lebih lanjutnya? Silahkan, tunggu dan saksikan launching-nya!

Senin, 06 Oktober 2008

Kisah Duo Narsis

haee..
sebelumnyah kami akan memperkenalkan diri..

"Saya Karin, saya orang yang paling eksentrik di kelas 7C. Sebenarnya saya ingin membuat cerita tentang kesedihan Aji karena dijadikan bulan-bulanan teman-temannya, tapi karena yang melanjutkan ceritanya Nenek, sudah pasti... jadi hancur..." *memukul Nenek*

"saia nia, bisa dipanggil tifa.. suka sekali cerita humor.. saia bekerjasama dengan Karin agar menjadi cerita yang gimana...gitu..."

Ini hanya postingan yang diciptakan kami berdua, awalnya hanya iseng, tetapi dari pada kertas yang kami tulis menjadi sampah, kami masukan blog saja.. ceritanya sedikit jayus, tapi ini jerih payah kami...

^^selamath membachaa...^^

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

WARNING! Teliti Sebelum Geli!

i
DILARANG membaca cerita ini di kantor, di sekolah, saat sedang sendirian, di kuburan, dan di tempat umum yang banyak orangnya. Apabila Anda membacanya, akan mendapat sanksi berupa ditegur/dipecat oleh bos, ditegur/dikeluarkan/dihukum oleh guru Anda, dibilang gila oleh orang di sekitar Anda, dihantui/dirasuki arwah yang marah, ataupun dicela/dihina orang banyak.

Jika Anda merasa cerita ini tidak lucu/sudah tidak punya rasa geli/terlalu serius untuk tertawa, tak perlu mematuhi peraturan di atas.

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 1: Way to the Other Dimension?

Sebuah vespa berwarna biru memasuki kompleks SMP Pangudi Luhur 1. Seorang anak laki-laki ceking berbadan kecil turun dari vespa itu. Dia clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri, memeriksa keadaan sekitar.

“Semoga tidak ada yang lihat,” gumamnya.

Ia masuki kompleks sekolah yang masih sepi. Maklum, masih jam 06.15 pagi. Ia memastikan tidak ada yang melihatnya. Tidak terlihat satupun teman sekelasnya. (berima, bok!)

“Aman…” pikirnya

Tiba-tiba, dari kegelapan malam yang mencekam (hoi, bodoh! Sekarang kan udah pagi?) muncul sesosok bayangan yang mengagetkannya dengan suaranya yang khas.

“VESPA!”

Aji terkejut dengan gaya lebay ala sinetron Indonesia (tidak jelas apakah dia suka nonton sinetron makanya jadi begitu, atau dia memang lebay dari sononya).

Sosok itu adalah Donni, anak ternarsis (selain dia) di kelas 7C—mungkin di seluruh sekolah—dan juga sobat Aji.

“Ea! Naik vespa ya? Trungtrungtrungtrungtrung!” Donni meleter , membuatnya tambah mirip bebek. “Pasti datang pagi-pagi biar nggak diledek, kan?”

Muka Aji memerah. Ia malu sekali. Tetapi ia tak bisa berkutik menghadapi ledekan Donni. “Ugh! Dasar Y***!” Aji menyebut nama ayah Donni.

Donni menghentikan celotehannya. “N****!” ia balas mengejek. Kedua sahabat itu lari ke kelas sambil saling mengejek.

Tiba di kelas, mereka melihat (tepatnya, melihat sambil nDlongop kayak kebo ompong) sebuah lemari besar yang sampai kemarin belum ada. Karena penasaran, mereka membuka dan masuk ke lemari itu. Mereka tiba di dunia yang sama sekali asing bagi mereka.

Ternyata lemari itu adalah pintu ke dunia lain! (Karin menjitak Nia karena mencampur cerita mereka dengan The Chronicles of Narnia. K: Kau ini kebanyakan baca novel dan nonton film! N: So what? Kan keren sangadh kayak yang baca. K: Narsis!)

Lebih gawat lagi, mereka tak bisa keluar! “Gawat, Don! Kita tak bisa keluar!” kata Aji panik. “Heh? Ini kan bukan cerita ciptaan C. S. Lewis?” tanya Donni.

Akhirnya mereka berkelahi. Kemudian, karena capek, mereka berhenti dan melihat dunia tempat mereka berada. Dunia itu penuh dengan sampah dan di mana-mana ada VESPA! Semua perabot di dunia itu terbuat dari bagian-bagian vespa atau berbentuk vespa.

“Akhirnya Aji menemukan surganya,” gumam Donni.

“Heh? Apa kau bilang?” tanya Aji sambil petentang-petenteng kayak tante-tante cerewet di telenovela.

Untunglah ada dua orang mendatangi mereka, kalau tidak mereka akan bertengkar lagi. Mereka adalah pasangan suami-istri Fabi Puter dan Dinda Puter.

"Sedang apa kalian di sini?" tanya Fabikopter, eh, Fabi Puter.

"Kami tersesat Om," kata Aji.

"Eits! Jangan panggil aku om!" kata Fabi Puter.

"Terus apa?"

"Panggil aku... Tante," kata Fabi.

PLETAK! Dinda memukul kepala Fabi dengan pembuat es puter. (Mungkin karena ini mereka dijuluki Fabi Puter dan Dinda Puter, tapi itu nggak ada hubungannya dengan cerita sekarang)

"Maaf, Fabi memang suka lebay kalau bercanda," kata Dinda. "Mari ke rumah kami!"

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 2: Nggak Tahu Malu

Di rumah pasangan Puter, mereka disuguhi banyak makanan enak. Kedua anak yang urat malunya udah putus ini tanpa malu sedikitpun minta tambah berkali-kali. Mereka cukup senang di situ, walau furnitur rumahnya terbuat dari bagian-bagian vespa, seperti rumah lain di dunia aneh bin ajaib itu. Bahkan tempat tidur mereka terbuat dari jok vespa yang digabung-gabungkan.

"Malam ini menginap saja di sini. Jangan keluar malam-malam, nanti kalian ditangkap Lord Tinton Delemot!" kata Fabi.

"Shiapha dhia thanthe?" tanya Aji dengan mulut penuh makanan. (anak baik jangan meniru ya!)

"Sudah jangan panggil aku tante! Aku cuma bercanda," kata Fabi. "Lord Delemot itu penguasa negeri ini. Dia sebetulnya pengusaha vespa yang frustasi. Kemudian ia mendapat kekuatan sihir dan ia menguasai negeri ini."

Aji dan Donni manggut-manggut kayak marmut ngantuk.

"Dia frustasi, makanya negeri kami jadi penuh sampah dan vespa," tambah Dinda.

"Kami akan melawannya!" kata Donni (yang baru saja menghabiskan porsi ke-4 kambing gulingnya dan sekarang menyantap es puter buatan pasangan Puter).

"Hah? Mana mungkin?" tanya pasangan Puter.

"Tenang, kami kan tokoh utama. Pasti kami akan menang!" kata Donni dengan gaya sombong dan narsis (plus gaya yang kalau digambarkan pasti bikin pembaca muntah 7 hari 7 malam, makanya tak ditulis). Aji ikut mengiyakan dengan gaya yang tak kalah jijay. Sementara suami-istri Puter hanya mlonga-mlongo saja.

"Kalau begitu biar kuberitahu. Kekuatannya terletak pada kacamatanya. Kalau kacamatanya diambil, ia tak bisa membaca buku mantranya," kata Dinda.

2 anak itu hanya ber-Oh-ria, menyebabkan suami-istri itu meragukan bahwa mereka pahlawan, karena mereka tambah mirip orang mental terbelakang dan sakit jiwa akut.

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 3: Extra Chapter Pengisi Waktu Luang

Esoknya 2 anak itu pamit untuk pergi ke puri Tinton Delemot, Puri Bong (bukan bunyi gong yah!)

"Kalian yakin?" tanya Dinda.

"Kalian tidak cari mati?" tambah Fabi.

"Oh, yakin sekaleeeehhh!" kata Aji, lagi-lagi bergaya tante-tante di sinetron.

"Karin-sensei sudah memberi spoiler bahwa kami akan mengalahkannya. Pasti happy end," tambah Donni. "Mohon doa restu."

(Nia memukul Karin karena memberi bocoran)

"Mau berapa biji restunya? Tunai, pakai kartu kredit, atau transfer?" tanya Fabi, yang lagi-lagi dikemplang istrinya karena (lagi-lagi) bikin humor keterlaluan.

"Bye-neee~~~!" kata 2 orang jagoan (?) kita dengan gaya bencong yang bikin Denta ngiri.

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 4: Logat Ambon?

Siangnya mereka tiba di puri Bong. Mereka segera menjalankan rencana.

"Paduka, ada 2 orang mencari Paduka," kata seorang pelayan.

2 orang itu masuk. "Yang Mulia, kami datang untuk menawarkan kacamata," kata Donni. Aji mengeluarkan kacamata emas dengan miniatur vespa mini di gagangnya (yang nggak jelas asli apa palsu).

Tinton langsung mupeng (muka pengen) "Wauw! Mau donkz!" serunya dengan logat Ambon (penulis digetok karena aneh-aneh).

"Ijinkanlah kami mencopot kacamata Paduka," kata Aji sembari mencopot kacamata Lord Klakson, eh, Tinton (abis namanya mirip bunyi klakson). Donni memanfaatkan itu untuk mencuri buku mantra.

"Kita panggil 2 pengarang itu saja," usul Aji. Ia segera merapal mantra untuk memanggil benda/mahkluk dari dunia lain.

"Wo ai ni wo ai no, rupamu kaya tela!"

Dua anak itu H2C (harap-harap cemas) menunggu efek mantra itu.

“Hei, mana kacamataku?” tanya Delemot.

“Maaf, ketlingsut, Paduka!” jawab Donni. Ia segera membujuk dan memuji-muji Tinton agar Tinton tak menyadari ia sedang ditipu.

"Wah, Paduka lebih keren kalau tidak memakai kacamata!" pujinya dengan gaya menjilatnya yang legendaris.

"Terima kasih, api aku tak bisa melihat dengan baik."

Donni berpikir keras. Melihat rambut di leher Tinton, yang mungkin calon jenggot yang nyasar, ia segera melancarkan jurus-menjilat-ala-pemakan-semut (hewan yang lidahnya super lengket itu, loh!), "Wao, keren sekali rambut yang tumbuh di leher Paduka itu!"

Tinton tersanjung. "Benarkah? Tadi pagi aku mencatoknya lho," ujarnya bangga.

"Paduka bisa masuk Guiness atau Ripley," puji Donni lagi.

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 4: Lintas Dimensi

Di SMP Pangudi Luhur, kelas 7C sedang pelajaran Bahasa Indonesia, diajar Bu D****.

Karin—pengarang pertama—asyik menyanyikan sebuah lagu yang tidak jelas bahasanya.

Tiba-tiba ia merasa kakinya ditarik.

"Hueh?"

Pengarang kedua, Nia, alias Tifa alias Nenek, yang sudah 1/2 tertidur karena bosan, terbangun kaget. Kakinya juga ditarik!

"Woi, Karin! Jangan tarik-tarik!"

"Aku tidak menarikmu!"

Tetapi mereka terus merasakan tarikan yang mencurigakan itu.

"Apa kita dipanggil ke dunia lain ya? Aku pernah membaca yang seperti ini di novel fiksi ilmiah. Padahal lagi pelajaran!" kata Karin.

"Bukannya kamu tidak memperha..." kata-kata Nia terputus. Mereka keburu menghilang dari kelas dan berada di tempat aneh.

"Sepertinya kita sedang perada di zona perantara dimensi kita dengan dimensi lain." Nia hanya bengong karena kaget dan bingung (maklum, nenek-nenek!)

BLUGGH! Mereka terjatuh di Puri Bong.

"Daijoubu, oba-san (baik-baik saja, nek)?" tanya Karin. (Maklum, dia otaku, pakai bahasa Jepun, biar ngakunya bukan pengkhianat bangsa! *digebuki Karin pakai suling*)

"OI! Bantuin dong! Kami lagi melawan Lord Tinton Delemot nih!" kata Aji.

"Ara? Mahkluk apa ini? Sore tottemo warui ne (Buruk sekali)!" kata Karin.

"Hoi! Kami Donni dan Aji di cerita kalian! Petualangan Duo Narsis, ingat nggak?" tanya Donni.

"Ya! Dan lestarikan Bahasa Indonesia! Jangan pakai bahasa Cina!" kata Aji bergaya sok patriotik (padahal itu bahasa Jepang).

"Oh, gitu. Tampang kalian jelek sih. Jadi nggak jelas. Kukira kalian..." kata Nia.

"HOI! APA ITU?" tanya Lord Delemot. Rupanya ia kaget mendengar kedatangan sepasang penulis cerita sedeng (orang sama ceritanya sama-sama sedeng) yang berisik itu. Ternyata walau ia rabun berat, nalurinya tajam! “Tunggu! Kalian penipu! Pengawal, tangkap mereka!”

"Gawat!" kata Aji. Donni segera merapal mantra teleport. "Bison bantat cutung bakwan kawi!"

Keempat anak aneh nan gokil ini menghilang, meninggalkan Lord Tinton Delemot yang misuh-misuh.

^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+^+

Chapter 5: The End?

Mereka muncul di sebuah hutan.

"Tunggu, pinjam bukunya!" kata nenek Tifa. Ia merapal mantra pemanggil benda dari dimensi lain. "Wo ai niwo aino, rupa muka yate la!"

Sementara itu di kantor wakasek PL 1, laptop milik Pak W****** tiba-tiba bergerak.

"Gempa!" seru Pak A*****.

Pak W****** bengong, kaget karena laptopnya menghilang.

Kembali ke dunia tempat si Delemot.

"Hei, ini kan laptop Pak W******?" seru Donni.

"Nggak pa-pa nih? Ntar kita diamuk si A*****! Belum lagi bisa dikeluarin dari sekolah, lho!" kata Aji.

"Biar aja! Kan bisa dibalikin lagi pake mantra, wokwokwok?" Nia meyakinkan temannya.

Karin segera mencolokkan flashdisknya ke laptop itu. Ia berencana mengubah cerita. Tapi...

"Hmmm... HASIL MID SEMESTER KELAS 7C?" Nia melihat salah satu folder.

"Ayo kita ubah nilai kita!" seru Donni semangat.

"Jangan! Cari gambar vespa di internet saja!" kata Aji.

"Dasar maniak o’on! Di dunia lain dimensi mana ada jaringan internet!" teriak Donni dan Nia.

"Reseeeeh!" kata Karin. Ia merebut laptop dan mengetik sesuatu.

“Tiba-tiba muncul paranormal bernama Ki Gatot Dombermawan yang mencari anaknya yang mirip bakwan.”

BOON! Muncullah seorang paranormal (kayaknya sih, penampilannya sih emang mirip paranormal).

"Aku Ki Gatot Dombermawan! Aku mencari anakku Krismawan yang seperti bakwan (berima lagi!) Apa kalian melihatnya?"

"Sayangnya kami tahu," kata Aji.

"Tapi ada syaratnya!" kata Karin. "Bantu kami melawan Lord Delemot!" sambung Nia.

PLOP!

Nia kaget. "Eh, copot!" Lord Tinton Delemot muncul berteleport dengan alat berupa robot yang bentuknya mirip pispot. Matanya melotot pada Ki Gatot yang pipinya peyot dan tampangnya bolot.

(K: 1 paragraf berima semua! Asyik! N: Memukul K karena mengganggu jalan cerita)

Ternyata ia memang hebat, bisa melacak 4 orang edan itu!

"Tenang!" kata Ki Gatot (padahal yang lain tenang-tenang aja tuh). "Nur saidah swiwi paganio!" Tinton Delemot berubah menjadi lalat, yang ironisnya langsung dilahap katak gemuk yang nangkring di dekat situ.

"Yes!" kata Nia dan Karin.

“Keren! Kayak aku dan Aji!" kata Donni. Ia dan Aji langsung digebuki.

"KALIAN BERDUA! BANGUN!"

Donni dan Aji gelagapan. Rupanya mereka tertidur di pelajaran fisika yang diajar Pak B*****.

“KELUAR!!!!” Mereka pun keluar dengan wajah lesu.

Teman-teman mereka tertawa meledek.

"Ceile... berduaan nih..." (Homo dong?!)

~=~=~!The End!~=~=~

Kesimpulan Cerita Ini:

  1. Jangan mengejek teman yang naik vespa.
  2. Jangan membuka lemari misterius.
  3. Kalau kamu laki-laki, jangan minta dipanggil Tante atau sebagainya.
  4. Jangan bertingkah kayak orang terbelakang mentalnya kecuali kamu memang begitu.
  5. Jangan membuat cerita aneh kalau tidak mau dipanggil ke dimensi lain.
  6. Jangan menyanyi di saat pelajaran.
  7. Jangan mencuri laptop gurumu.
  8. Jangan bergaya lebay seperti yang ada di sinteron/telenovela.
  9. Jangan berbuat jahat kalau tidak ingin seperti Tinton Delemot.
  10. Jangan tidur saat pelajaran fisika (apalagi kalau gurunya galak).
  11. Lestarikan bahasa Indonesia!

muehehehehe....

=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=

CREDITS
=_=
Disutradarai oleh Vendo (dipaksa, dia kan ketua kelas!)

Naskah ditulis oleh Karin dan Nia

Anggaran bikin film diurus Ito, Krisan, dan Ayu

Administrasi dan tulis-menulis diurus oleh Mega dan Bobie

Direkam oleh Gitta, Hana, Yulius dan Yona

Donni diperankan oleh Donni

Aji diperankan oleh Aji

Fabi Puter diperankan oleh Fabi

Dinda Puter diperankan oleh Dinda

Lord Tinton Delemot diperankan oleh Tinton

Karin diperankan oleh Karin

Nia diperankan oleh Nia

Pak A***** diperankan oleh Pak A*****

Pak W****** diperankan oleh Pak W******

Ki Gatot Dombermawan diperankan oleh Bapaknya Krismawan

Pak B****** diperankan oleh Pak B******

Anak-anak 7C diperankan oleh Anak-anak 7C

(sori, jadi nyeret kalian ke sini... heheheh...)


PERHATIAN

Cerita di atas 1000% fiksi belaka. Jika Anda menemukan kesamaan nama atau nama Anda diplesetkan/dibawa-bawa, hal itu disengaja. Jangan marah, namanya juga komedi! Hehehe!

=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=

........................lol
Setelah pemutaran film, anak-anak kelas 7C ribut.

Ada yang mengusulkan kalau dibuat sekuelnya, Petualangan Duo Najis, dengan pemeran tetap, tapi ada yang mengusulkan Petualangan Duo Najis diperankan Tinton dan Dimas, ada yang mengusulkan sekuel Petualangan Duo Narsis di Dunia Vespa, ada yang mengritik jalan ceritanya, dan ada yang memukuli kedua pengarang gila yang mengarang cerita ancur dan masih nekat memfilmkannya.

Michael meminta resep kambing guling yang dimakan Donni di chapter 2 pada Vendo (M: “Soalnya keliatannya enak sih!” V: ”Pikiranmu ke makanan terus!”).

Donni dan Aji protes pada penulis lantaran dipermalukan habis-habisan.

Indira a.k.a Brabowo komplen karena nggak ada di film (yang langsung digebuki karena narsis).

Mega protes karena harus menulis draft naskah sepanjang tujuh halaman ("Jariku kapalan!").

Krismawan protes karena bapaknya dimasukin (diplesetin pula).

Bobi dibilang gila tetangganya karena di rumahnya dia masih cekikikan dengan volume superkeras yang bisa kedengaran sampai Mars (Tetangganya bilang, "Hoi, situ tuh memang dari sononya udah gila, jangan ditambahi!").

Memang anak-anak kelas 7C banyak yang memprotes. Tetapi sebetulnya mereka menikmatinya.

Apakah Anda juga menikmati cerita ancur ini?

=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=1=2=3=4=5=6=7=8=9=

EPILOG

"Akhirnya benar-benar selesai, ya, Nek,"

"Ya, sekarang kita harus ikut jumpa fans,"

"Jangan berlebihan, ah,"

"Biasa, orang keren! Eh, kita belum nulis apa Ki Gatot Dombermawan ketemu Krismawan apa nggak,"

"Tenang, bisa ditulis di sekuelnya,"

"Judulnya apa?"

"Sesuai usulan penonton: Kisah Duo Najis! Ceritanya, Ki Gatot bingung karena Duo Narsis menghilang, lalu ia meminta tolong pada Duo Najis yaitu Dimas dan Tinton, dengan memakai mantra pemanggil mahkluk dari dimensi lain."

"Oke, tunggu saja sekuel dari kita! Pe..."

"Bukan kita! Kami! Gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar!"

"'Serahlah. Oke, tunggu saja Petualangan Duo Najis! Wokwokwok?"

"Dan sekarang, TAMAT, BENAR-BENAR TAMAT!"

"MERDEKA! HORAS BUNG!"

"Lho, apa hubungannya?"

"Kita harus melestarikan Bahasa Indonesia, katamu?"

"Ya, tapi apa hubungannya dengan 'Merdeka' dan 'Horas'?"

"Nggak ada."

"..."

Minggu, 05 Oktober 2008

Timun "Harry" Mas

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri Potter yang miskin. Mereka berdua harus merawat kebun kecil mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. James sang suami bekerja siang dan malam (pagi-pagi tidur) untuk mencangkul kebun mereka. Lily sang istri sibuk menyiangi rumput liar dan memasak untuk suaminya. Meski miskin namun mereka adalah pasangan suami istri yang sangat berbahagia.
Tak lama mulailah timbul masalah. James sudah tidak dapat bekerja terlalu berat akibat asam urat yang ia derita. Lily sering memarahinya karena James terlalu sering makan jeroan sapi (karena tidak sanggup bila daging). Mereka pun tidak diberkahi anak. Mereka iri dengan keluarga Weasley tetangga mereka. Keluarga itu kini dikaruniai putra ke-6. Lily selalu mengingatkan Moly untuk segera ikut program KB karena jika punya anak terlalu banyak juga tidak baik.
Suatu malam, Lily pergi ke luar rumah untuk menikmati udara malam, meninggalkan suaminya yang berteriak kesakitan karena asam uratnya kambuh lagi (“Kan sudah kubilang jangan makan kacang!”). Dia menatap bintang di langit. Betapa banyaknya. Tiba-tiba dia merasa sedih. Air matanya mengalir dari mata hijau cermelangnya.
“Andai aku punya anak,” harapnya.
“HAHAHAHA!!” terdengar suara tawa dari kejauhan.
Lily merasakan tanah bergetar, bumi gonjang-ganjing, seiring langkah besar seorang pria bertubuh amat besar dengan rambut keriting panjang dan jenggot panjang yang dibiarkan acak-acakkan.
“Buto Ijo!!” seru Lily ketakutan.
“Bukan. Aku bukan Buto Ijo. Memangnya badanku hijau?” kata pria yang mengenakan mantel bulu dan yang ternyata bukan Buto Bulu juga. “Rubeus Hagrid, itu namaku.”
“Apa maumu?” tanya Lily takut-takut.
“Aku dengar mau punya anak kan kamu?” tanya Buto Hagrid (Lily memutuskan untuk memanggilnya seperti itu).
“I..iya.”
“Aku bisa membantu kau tahu?” Buto Hagrid mengeluarkan biji emas dari kantungnya. Biji itu terlihat seperti pasir di tangannya yang besar. “Ini biji timun ajaib. Tanam dan akan keluar anak. Ajaib bukan?”
“Wah… bagus sekali. Mau donk!”
“Tapi kau harus menyerahkannya padaku ketika dia berumur 6 tahun.”
“Hah?! Apa?!” tanya Lily dengan gaya berlebihan seperti di sinetron. “Memangnya apa yang akan kau lakukan? Mau kau makan ya?”
“Tidak, tidak suka makan manusia.” sangkal Buto Hagrid. “Tuanku yang akan memakannya. Kau tahu Raden Voldemort?”
“Tidak.”
“Oh, dia itu cuma orang gila dari keluarga petani yang tiba-tiba jadi Raden. Dia ingin menambah kesaktiannya dengan memakan bayi dari timun ini.” terang sang Buto.
Lily hanya ber-Oh-ria.
“Jadi, kau mau bibit ini?” tanya Buto Hagrid.
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Lily setuju. Dia memang ingin sekali mempunyai anak. Tidak ada salahnya mendapatkan anak dengan cara seperti ini. Lagi pula, siapa tahu anaknya lebih berguna dari pada suaminya yang bodoh dan kerjanya suka gangguin pembantu tetangga itu?!
“Ok, aku akan kembali 6 tahun lagi. Ingat itu baik-baik! Hahaha!” dengan itu sang Buto Hagrid pun segera pergi.

Lily segera masuk ke rumah dan memberitahu kejadian ini pada suaminya. Suaminya dengan sangat antusias menerima bibit emas ajaib itu. Dia langsung menanam bibit itu dan berharap agar anaknya akan ganteng seperti dirinya.
Keesokan harinya James dan Lily dikejutkan oleh sebuah timun besar berwarna emas. Timun itu sangat besar dan sangat berat sehingga kalau dijual di tukang buah pasti akan laku mahal. Awalnya James mengusulkan untuk menjualnya ke tukang emas (karena bentuknya seperti emas) tapi mengurungkan niatnya saat Lily menginjak kaki James dengan sangat kencang. Mereka berdua berusaha membuka timun itu. Mereka sudah mencoba untuk memotongnya dengan menggunakan pisau dapur, memakai bacok, pakai kuda lumping, pakai intan (boleh pinjam dari orang), sampai dilas, tapi tetap gagal.
Di saat mereka sudah menyerah, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menggelegar dan tanah bergetar. Lalu sebuah petir menyambar timun besar itu. Segeralah timun itu terbelah menjadi 2. Ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki dengan rambut hitam. Di dahi bayi itu terdapat luka bekas sambaran petir. Lily segera menggendong putranya dengan penuh kasih sayang.
“Siapa anak ini yang?” tanya Lily.
“Karena dia lahir dari timun mas maka aku akan menamakannya,” James berhenti sebentar, “Mas Potter.”
Lily memukul kepala suaminya sebagai aksi protes atas nama aneh anaknya.
“Ok, bagaimana kalau Harry Potter?”
Maka Harry pun tumbuh menjadi anak yang baik hati, ramah, dan tidak sombong. Suka membantu, rajin beribadah, serta taat kata orang tua.

Akhirnya tibalah hari ulang tahun Harry ke-6. Tiba-tiba saja Lily mendapat petuah bahwa hari ini Buto Hagrid akan datang. Lily ketakutan dan sedih karena dia tidak ingin anaknya diambil. Maka James pun yang maju menghadapi Buto Hagrid.
“Oh hai Potter! Sudah siap memberikan anakmu?” tanya Buto Hagrid.
“Hai Buto Hagrid! Jenggotmu bagus sekali hari ini.” puji James.
“Terimakasih, tadi aku sempat mencatoknya dulu sih.” kata Buto Hagrid dengan bangga.
“Mantelmu juga bagus. Ini dari bulu apa?” tanya James.
“Ini dari bulu berang-berang. Bagus bukan? Aku tangkap sendiri lho.”
Tak lama kemudian James berhasil membuat Buto Hagrid mabok pujian. Akhirnya James berhasil meyakinkan Hagrid untuk tidak membawa anaknya hari itu. (JP: “dia begitu kurus cuma tulang doank. Gak enak buat dimakan.” BH: “Wah, kurus sekali! Pasti ini karena kalian tidak memberi makanan tinggi gizi padanya”)
“Baiklah, aku akan kembali saat ulang tahun ke-11nya.” dengan itu Buto Hagrid pun segera pergi.

Tahun-tahun berikutnya pun berlalu dengan tenang. Harry makin tumbuh menjadi anak yang makin baik. Lily mulai memperbaiki pola makan Harry dan memberikannya makanan tinggi gizi (dia tidak mau diceramahi seorang Buto!)
Menjelang ulang tahun Harry yang ke-11, Lily mendapat sebuah surat yang diantar oleh burung hantu. Lily segera membuka surat itu dan membacanya,

“Dear Mr. & Mrs. Potter
Dengan ini kami mengundang kalian di gua Hogwarts untuk menemui Ki Albus Dumbledore untuk menerima beberapa barang sakti untuk anak kalian Harry Potter. Kami mengharapkan kedatangan kalian pada hari Jumat Kliwon jam 12 siang.
Tertanda,
Wakil Gua, Minerva MacGonagall”

Maka pada hari Jumat Kliwon (yang adalah hari ulang tahun Harry) Lily pun segera pergi ke gua Hogwarts (lagi-lagi asam urat James kambuh). Gua itu tidak begitu jauh. Begitu tiba, dia langsung disambut oleh perempuan tua bernama MacGonagall. Dia lalu diantar ke Ki Albus Dumbledore. Ki Albus memiliki jenggot keperakan yang amat panjang dan mata birunya mengedip ke arah Lily dari balik kacamata bulan separonya.
“Salam hai anakku yang dirundung masalah,” sapa Ki Albus, “aku dengar anakmu akan dimakan oleh Raden Voldemort. Kita tidak boleh membiarkan Raden Voldemort menambah kesaktiannya. Ini, aku berikan barang-barang sakti ini. Serahkan pada anakmu.”
Lily menerima sebuah kantung besar dan langsung pulang.

Sementara itu kediaman Potter mendapat kunjungan seorang pria dengan rambut hitam berminyak serta hidung yang sangat besar. James segera menyuruh Harry bersembunyi. Ia langsung maju menghadapi pria itu.
“Maaf, siapa ya?” tanya James.
“Namaku tidak penting! Ma..”
“Bagaimana kalau kau pergi saja? Kau bukan orang penting kan?” sela James.
“Ok! Fine! (Thank you! And you?!). Aku Severus Snape. Aku datang sesuai perintah Raden Voldemort untuk mengambil anakmu.”
“Ah, mana Buto Hagrid. Aku rindu.”
“Itu bukan urusanmu! Mana anakmu?!!”
“Sabar donk. Ngomong-ngomong rambutmu bagus ya.” itu satu-satunya pujian aneh yang bisa James utarakan karena tidak ada satu pun pujian yang bisa diutarakan pada pria itu.
Snape menatap galak James, “Jangan bohong Potter! Aku tahu kau berbohong! Aku tahu kau cuma mau mengulur waktu sampai anakmu kabur kan? Aku tidak setolol Buto itu! Cepat serahkan anakmu!”
“Wow, kau bisa baca pikiran orang? Kau mau masuk tivi?”
“Bukan urusanmu! Tanpa masuk tivi pun aku sudah terkenal sebagai ahli Oclumency terhebat! Serahkan anakmu!”
Sementara 2 orang ini bertengkar, Lily yang baru pulang dari Gua Hogwarts segera menghampiri Harry. Dia menyerahkan kantung itu kepada Harry dan menyuruh Harry kabur.
“Ah, sial! Dia kabur!!” kata Snape. Dia segera mengeluarkan handphone-nya dan menelpon seseorang, “Ndoro, si Harry kabur Ndoro!”

Harry segera berlari sekencang mungkin. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia cuma dibertahu oleh ibunya bahwa dia akan diambil oleh seorang Raden. Dia bingung kenapa dia harus lari. Bukankah bagus juga dia bisa tinggal di keraton?
Tiba-tiba dia mendengar suara tawa dari belakangnya. Harry menoleh ke belakangan dan melihat sosok pria dengan muka seperti ular. Mata merah orang itu menatap tajam ke arah Harry.
“Hahaha, akulah Raden Voldemort! Berhenti Harry Potter! Aku akan memakanmu!!” katanya.
Kini Harry tahu kenapa dia harus lari dari Raden gendeng dan menyeramkan itu. Harry berlari dan berlari. Tapi kecepatannya dapat diimbangi oleh Raden itu. Ia lalu memutuskan untuk membuka kantung pemberian Ki Albus. Dia merogoh asal isi kantung itu dan mengeluarkan batu merah yang indah.
“Hah, batu apa ini? Gimana pakenya?” tanya Harry. Karena melihat Raden Voldemort makin mendekat, Harry langsung saja melempar batu itu dan mendarat dengan sangat keras di hidung Raden Voldemort.
“ARGH!! HIDUNGKU!!” Raden Voldemort memegangi hidungnya yang kini berdarah. Ia segera menyembuhkan hidungnya yang patah. Tulang hidungnya tidak dapat diselamatkan. Tanpa hidungnya, Voldemort makin mirip ular.
Harry merasa senang bisa menghambat Voldemort. Tapi bukan saatnya senang. Batu itu tidak cukup untuk mengalahkan Voldemort. Harry kembali merogoh asal kantungnya. Kali ini yang keluar adalah buku dengan sampul hitam dengan tulisan “My Diary” di covernya.
Karena penasaran Harry melihat isi buku itu. Voldemort saat tahu sebenarnya buku apa yang sedang dibaca Harry tiba-tiba menjadi panik.
“Tanggal 29 Februari,” Harry membaca salah satu isi buku itu, “Dear Diary, hari ini aku ngompol lagi. Sebal banget deh! Ini pasti gara-gara kebanyakan minum jus timun semalam. Terus aku …,”
“STOP!! Jangan dilanjutkan!!” seru Voldemort dengan wajah merah padam.
Harry tiba-tiba mendapat ide. “Tanggal 3 Maret, celanaku robek di bagian pantat,” Harry mulai mencari bagian memalukan dari diary Raden Voldemort, “tanggal 5 Mei, perempuan yang kutaksir bilang kalau aku mirip ular, tanggal 7 Agustus celana renangku melorot saat aku terjun ke sungai, tanggal 30 Oktober aku disangka ular sama pawang ular, tanggal …,”
Voldemort langsung membakar buku hariannya dengang kesaktiannya. “Hahaha, sekarang kau tidak bisa mengancamku dengan kejadian memalukan itu.” kata Voldemort.
Harry kembali lari. Kini dia mengambil sebuah jubah hitam dan segera melemparnya ke arah Voldemort. Jubah itu segera berubah menjadi makhluk mengerikan yang melayang-layang di udara.
“Pake dementor toh?” ejek Voldemort. “Mereka menghisap kenangan bahagian. Karena aku tidak punya kenangan bahagia jadi mereka tidak ada pengaruh apa-apa padaku.”
Harry berlari lagi. Dia kembali memasukkan tanganny ke dalam kantungnya. Dia merasa menyentuh sesuatu yang seperti piala. Tiba-tiba saja dia sudah berpindah tempat ke tempat yang sama sekali asing baginya. Harry mengeluarkan piala itu. Sepertinya piala itu adalah portkey, alat untuk pindah tempat.
Harry setidaknya bisa bernafas lega sebentar. Pasti Voldemort sedang kebingungan mencarinya. Tapi dugaan Harry salah. Tak sampai 1 menit kemudian, dia melihat Voldemort berdiri di depannya.
“Jangan remehkan kesaktian Raden Voldemort ya!” kata Voldemort sambil tertawa.
Harry segera mengambil satu-satunya barang yang tersisa di kantung, sebuah bola kristal. Dia langsung melemparnya ke arah Voldemort.
“Bola kristal apa ini?” tanya Voldemort.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang tinggi melengking dibuat-buat, “Raden Voldemort, kau tidak akan pernah menjadi Raden yang sesunggunya. Akan kuberitahu apa yang menantimu di haru depanmu! Kekalahan!!”
“Tidak!! Bohong!!” seru Voldemort.
“Kau akan mengalami kepahitan yang tidak terbayangkan dalam hidupmu.”
“Jangan!! Hentikan!! Masa depanku tidak seperti itu!!” Voldemort menutup kedua telinganya.
“Kau tidak bisa menolak takdirmu! Kau ditakdirkan untuk kalah!!”
“TIDAK!!!!!” akhirnya Voldemort pun pergi karena tidak tahan mendengar ramalan itu.
Harry menghembus nafas lega.
“Dan kamu Nak,” suara itu kini berbicara pada Harry, “kau akan menjadi tokoh utama buku best-seller dunia.”
Harry hanya tersenyum sambil menjejal bola kristal itu ke dalam kantung. Setelah itu dia kembali ke rumahnya dan menceritakan apa yang ia alami kepada orang tunya.

~FiN~